BannerFans.com

Satu orang percaya, seisi rumah diselamatkan

Thursday, March 10, 2011

Shalom all.....

Sharing yang kali ini berasal dari sepupuku, ia menceritakan bagaimana keluarganya dapat menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Satu persatu mereka diselamatkan dan menjadi percaya tentunya dengan cara Tuhan Yesus yang ajaib. Kiranya lewat sharing ini dapat memberkati saudara sekalian. Glory bagi Dia.

Aku Sebelum Mengenal Tuhan
Aku  dan keluargaku berasal dari agama B. Walaupun aku tidak rajin untuk pergi ke tempat ibadah, namun dulu aku tetap cinta agamaku. Keluargaku memiliki tempat persembahan seperti altar di rumah. Tempat persembahan di rumah biasanya di urus oleh papa. Setiap pagi harus di ganti air minumnya, di tambah minyak untuk lilin juga di beri dupa.
Mama pun selalu rajin untuk pergi beribadah. Adik-adikku pun rajin. Papa biasanya datang mengantar mama, sekedar untuk tusuk garu lalu pulang. Hanya aku sendiri yang malas. Bahkan saat SMA aku hampir tidak pernah pergi beribadah, apalagi saat kuliah. Hanya jika ada cewek cantik yang mengajak beribadah saja, aku baru pergi untuk cuci cuci mata. ^^

Tuhan Mengetuk Pintu Hatiku namun Aku Menolak
Saat itu aku lagi santai di kost sedang ngumpul bersama teman. Tiba-tiba mbak kost bilang ada yang mencariku, lalu aku pun turun dan menemui orang itu. Dia berkata mau mengobrol denganku, lalu aku mempersilahkan dia masuk dan duduk di kamarku. Ketika mulai mengobrol, dia mulai membahas injil. Kebetulan waktu itu ada temanku yang beragama Kristen, jadi aku melempar “penginjilan” itu kepada dia. Jadilah hari itu mereka tidak jadi mengijilin aku, tetapi temanku. Setelah selesai, dia mengajak kami doa bersama kemudian mereka pergi. Tetapi Tuhan memang mencari aku. Selang beberapa hari dia datang lagi untuk memberikan undangan KKR atau pertemuan apa gitu. Aku tidak mengerti, jadi hanya aku “iya”kan saja. Aku tidak pernah muncul dalam undangan tersebut. Kemudian dia bertanya nomer hpku dan diajak janji ketemuan, namun aku selalu menolak dengan alasan yang kubuat-buat.

Papa Dikenalkan Tuhan oleh Keluarganya
Keluarga papaku waktu itu hampir semuanya sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat. Mereka terus menyerang kami, mengatakan kalau yang kami sembah waktu itu adalah setan. Hal itu sangat membuat kami benci dan kesal, namun tidak dapat marah karena ingin menjaga perasaan antar keluarga. Papa yang saat itu terus diinjili oleh mereka merasa terdesak, lalu karena kesal, akirnya memutuskan untuk membakar tempat persembahan di rumah. Seorang pendeta dipanggil, lalu tempat persembahan dibongkar dan dibawa ke gereja, lalu di bakar. Mama menelpon aku memberi tahu kabar itu. Waktu itu aku sangat marah, namun aku tidak dapat berbuat banyak. Semua sudah terjadi…

Papa Sakit, Aku Berhenti Kuliah
Tidak lama dari pembakaran itu, sakit lama papa ku kumat. Papa terkadang seperti anak kecil, terkadang marah-marah tanpa sebab, tidak mau diajak ngomong dan tidak nyambung. Misalnya, kita ngobrol tentang A, dia akan menjawab B C D sampai Z, pendeknya cerita yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pertanyaan. Uang sudah seperti daun saja di mata papa, semua tidak jelas. Pegang uang berapa saja bisa habis.
Saat itu aku masih kuliah. Papa datang ke Jakarta dan terus berbicara tidak jelas. Aku tidak tahu menahu soal penyakit papa. Waktu itu dia membawa uang cukup banyak dan memberikan ke saudara-saudara dan temannya.  Aku mengira saat itu kalau memang bisnis di daerah sudah lancar. Waktu itu papa ke Jakarta selama 1 minggu dan menginap di kostku. Kami berdua makan hemat ala anak kost. Uang yang dihabiskan seminggu mencapai 20juta. Memang ada sedikit untuk ke dokter saraf, untuk cek saraf papa tetapi bayaran dokter seingatku hanya sekitar 2jt. Dua kali dia datang ke Jakarta dalam rentang waktu yang cukup dekat. Uang yang dihabiskan hampir sama. Anehnya, sakitnya bukan makin baik tapi makin lama makin parah, tetapi aku masih belum tahu tentang itu. Mama tidak cerita. Aku sendiri takut untuk bertanya, karena memang saat sehat pun, papa memiliki emosi yang luar biasa, membuatku takut untuk bertanya atau sekedar ngobrol dengan papa.
Semakin hari sakit papa semakin parah. Mama yang tadinya menutup-nutupi akirnya tidak bisa lagi. Semua orang tahu. Orang-orang dari agamaku dulu bilang kalau papa itu kualat karena telah membakar tempat persembahan. Saat aku pulang liburan, aku melihat keadaan papa yang demikian parah. Aku pun tidak merasa kalau bisnis sudah sukses. Papa terus-terusan marah, aku tidak tahan dan mulai melawan. Keributan dalam keluarga pun terjadi. Akhirnya mama cerita semuanya; tentang sakit papa yang memang sudah ada sejak lama dan aku  dan adik-adikku belum pernah tahu. Ternyata penyakit papa tersebut sudah ada sejak dia masih bujangan, penyakit yang dia dapat karena trauma masa kecil. Kakekku sangat keras mendidik anak-anaknya. Sakit itu pernah beberapa kali terulang waktu kami kecil dan biasanya setelah ke Jakarta berobat papa bisa mereda. Tetapi tidak kali ini. Papa makin parah, membuat orang-orang dari agama lamaku makin senang, karena itu dapat menjadi topeng buat mereka: berani bakar berhala, gila akibatnya. Aku yang sudah tahu kalau papa sakit tetap tidak bisa menerima hal tersebut, akirnya pulang ke Jakarta lebih cepat karena tidak tahan dengan keributan yang terjadi.
Tak lama setelah aku pulang ke Jakarta (waktu itu liburan semester belum berakhir), Jakarta mengalami banjir yang cukup besar. Berita TV mulai menyiarkan banjir di Jakarta dan papa pun menontonnya. Papa waktu itu sakit jadi dibujuk mama untuk istirahat, secara tidak langsung bisa dibilang “dipingit” agar tidak semua orang tahu tentang papa. Ketika papa melihat berita banjir tersebut, papa langsung berteriak “..Engggg (manggil mama), banjir, Engg! Banjir nah..”. Mama pun kaget lalu ia langsung mendekat ke papa yang sedang menunjuk TV, lalu berteriak “Banjir, Eng.. Sandy nanti hanyut..Banjirr…”. Mama langsung menelponku dan menyuruhku untuk ngomong ke papa kalau aku baik2 saja. Lokasiku jauh dari banjir.
Dari kejadian itu, aku langsung merasa down. Tidak ada lagi niat untuk kuliah. Beberapa hari aku tidak dapat tidur. Akhirnya aku menelpon mama bilang mau berenti kuliah. Keputusan tiba-tiba tersebut membuat semua teman-temanku kaget, tetapi keputusanku untuk berhenti kuliah sudah bulat. Setelah itu mama bilang nanti dulu, jangan langsung pulang karena mama mau ke Jakarta ajak papa berobat lagi. Waktu itu mama papa berangkat lagi ke Jakarta. Adikku yang waktu itu kuliah di Surabaya pun datang ke Jakarta bersama cowoknya.  Jadi kami berlima ada di Jakarta, tidak memungkinkan untuk tidur di kamar kost ku yang kecil. Kami pun tidur di hotel, berobat, makan di mall dan jalan-jalan ke Bandung. Belanja dan beli oleh-oleh. Setelah pulang, total pengeluaran kurang dari 20 juta. Padahal kami berlima dan makan di tempat-tempat mewah, berobat ke dokter ke bandung, dlsb. Harusnya pengeluarannya jauh lebih menghabiskan uang daripada kunjungan papa sebelumnya.

Aku di Toko
Di rumah ternyata kondisi papa masih juga belum  membaik.  Aku mengatur keuangan toko. Aku melarang papa untuk memegang keuangan toko. Di sana aku melihat papa seperti anak kecil. Rasa hormatku pun semakin lama semakin berkurang. Terkadang papa marah-marah sampai mama menangis, aku yang melerai. Malahan terkadang emosiku ikut terpancing sehingga keributan makin parah. Setiap hari aku lalui dengan tekanan. Stress dan emosi, tetapi tidak ada yang perduli.
Kami yang sudah tidak sanggup lagi untuk berada dalam keadaan ini lalu menelpon ke keluarga papa. Akhirnya mereka menyuruh papa untuk tinggal sementara di Bengkulu. Mama terus membujuk papa untuk berangkat ke Bengkulu, sampai akirnya papa mau. Saat papa di Bengkulu aku mendengar kalau papa dulu pernah kebal. Aku mendengarnya dari kakak sepupuku. Dulu, ketika papa mabuk, ia mengambil samurai orang kemudian diiriskan ke tangannya, namun tidak terjadi apa-apa. Malah papa bilang “samuraimu itu tumpul”. Sebelumnya memang aku sering diajak pergi ke dukun, namun karena aku tidak terlalu mengerti, aku hanya menjawab “OK” saja. Dulu aku juga pernah diberi cincin yang katanya akan membuatku kebal dengan membaca mantra, tetapi aku tidak pernah memprakteknya. Walau memang sempat ku pakai. Akirnya ku lepas karena malu di kenal orang karena badan besar pake cincin besar. ^^
Papa,Mama, Adik Bungsuku di Bengkulu
Di Bengkulu papa didoakan setiap hari. Orang gereja datang melayani ke rumah kakaknya papa (ako), pendeta juga setiap hari datang untuk mendoakan papa. Papa sering mengamuk dan marah, seperti takut akan doa yang mereka panjatkan. Papa lalu mencari alasan untuk lari dari doa, papa jadi takut air. Oleh karena papa takut air, maka dikatakan oleh pendeta untuk sekalian dibabtis saja agar Tuhan yang menyucikannya. Lalu mama diajak untuk menyusul papa ke Bengkulu untuk dibaptis, karena menurut firman Tuhan, suami istri adalah satu.
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging (Efesus 5:31)
Akhirnya, mama dan adikku menyusul ke Bengkulu. Aku di toko sendirian (alone deh ^^). Di Bengkulu mama pun terus diinjili dan disarankan untuk dibabtis. Mama setuju namun sebenarnya mama memiliki hati yang amat menolak. Ia melakukan hanya untuk menghidar dari masalah. Saat itu, mama berpikir “..mau babtis, yah babtis aja.. Nanti aku pulang ke Linggau mau ke V lagi, yah mereka juga ga tau..”.
Mama terus diinjili dan disuruh untuk  menumpangkan tangan ke papa. Di malam hari, ketika papa sedang tidur, mama secara iseng berdoa tanpa tumpang tangan dan papa tetap tidur. Lalu, iseng mama menumpangkan tangan ke papa (tanpa menyentuh hanya mengarahkan tangan ke papa) dan berdoa, kemudian secara tiba-tiba papa terbangun dan bertanya “Kenapa, Eng?”. Mama yang gugup langsung berkata “Oh tidak ada apa-apa..Papa tidur aja.”. Kemudian papa tidur lagi, mama iseng lagi dan berdoa. Papa tidak terbangun, namun setelah mama selesai,lalu berdoa lagi sambil menumpangkan tangannya, ia terbangun lagi. Hal itu terus terjadi sampai beberapa kali.
Mama terus diinjili dan papa terus didoakan. Dalam marah, papa berteriak kepada mama untuk minta perlindungan. Tetapi mama secara spontan, seperti dipenuhi Roh Kudus menyanyi lagu rohani “..dalam nama Yesus, dalam nama Yesus..”. Papa langsung berteriak “Tidakkkkkkkkkkkkk………! diam kau eng”. Adik ku melihat papa seperti itu ikut bernyanyi. Dan papa teriak lagi menyuru adikku diam. Namun mereka terus bernyanyi. Seperti orang kemasukan, kemudian papa menangis dan berlari ke depan tanpa memakai sandal. Dari sanalah awal mulanya mama mulai percaya Tuhan Yesus.

Mama, Papa, dan Adik Bungsuku di BAPTIS
Mama, papa, adikku serta beberapa pendeta dan ako ke hotel Horizon dalam rangka membaptis mamaku, papaku dan adikku. Ketika mama dan adikku dibaptis, tidak terjadi apapun. Terakir ketika papa dibaptis, tepat setelah ia keluar dari kolam, papa berteriak “Sama saja!!”. Yang lain langsung menjawab “Tidak! Kamu berbeda. Roh yang ada padamu lebih besar daripada roh yang ada didunia.”
“..sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (1 Yoh 4:4b)
 “Sama saja!!”, teriak papa kepada mama. Mama yang tidak mau membuat hal ini menjadi masalah berkata “Iya, sama saja.”. Tetapi pendeta, ako serta umat yang lain langsung menjawab, “Roh yang ada pada kamu lebih besar daripada roh yang di dunia ini”. Papa lalu menangis dan terus berteriak “sama saja”. Hal itu terus terjadi selama perjalanan pulang. Di mobil, mama menelponku. Ia menyuruhku mendengar tentang apa yang terjadi. Saat itu, aku tidak mengerti sama sekali. Hanya mendengar dan merasa sedih karena kupikir papa belum sembuh.
Sesampainya rumah ako, papa tidur sampai sore, lalu bangun dengan keadaan sehat sembuh total. Setelah beberapa hari berikutnya, mama dan adikku pun pulang, sementara papa terus di Bengkulu. Disana ia didoakan dan terus dikuatkan imannya.

Papa Pulang
Setelah mama dan adikku pulang, aku baru mendengar semua cerita itu. Aku menanggapinya hanya sebelah mata. Meremehkan, seakan tidak percaya. Mama hanya menjawab “..nanti papa pulang kamu lihat sendiri gimana..”. Beberapa hari kemudian papa pun pulang ke rumah. Papa turun dari mobil dan aku sendiri yang menyambutnya, ingin membuktikan kata-kata mama. Papa menyalamiku dan tersenyum..Aku berfikir papa benar-benar sembuh total, sama seperti sebelum papa sakit. Aku senang sekali dan mulai mau mencoba untuk ke gereja. Aku ke gereja dengan perasaan bertanggung jawab atas doaku sendiri, karena waktu papa di Bengkulu aku pernah berpikir “..kalau papa memang sembuh, aku mau mencoba untuk ke gereja.” J Lalu aku pun ke gereja dan mulai mengenal Tuhan.
Tetapi imanku tergoyangkan. Setelah 4 hari papa pulang, papa mulai menunjukkan gejala sakit. Jadi hanya dalam 3 hari pertama itu papa sembuh. Papa mulai ngawur dan mulai marah-marah. Di rumah, kami masih baru mengenal Tuhan. Tidak ada yang rajin mendoakan papa dan menguatkan imannya, sehingga setan kembali mencoba menggodanya. Keributan demi keributan terjadi lagi. Bahkan lebih besar dari sebelumnya. Mama tetap terus mendoakan papa. Aku yang baru mencoba mengenal Tuhan Yesus sebenarnya hanya bertanggung jawab karena nazarku sendiri, aku pernah mengatakan akan ke gereja jika Tuhan menyembuhkan papa. Tuhan sudah menunjukan kesembuhan papa, walau hanya 3 hari.
Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.” (Pengkth 5:3)
Aku Bekerja di Bengkulu
Beberapa bulan kemudian, suami ako meninggal dunia. Kami semua ke Bengkulu untuk menghadiri pemakaman. Di sana aku diminta untuk datang membantu karena anak-anak ako masih kecil dan saat itu ako masih sanggat labil. Puji Tuhan di Bengkulu aku terus dikuatkan. Banyak sekali mujizat terjadi didepan mataku. Tuhan memilih aku. Ia terus mendobrak hatiku sampai aku mau sungguh beriman padaNya.
Awalnya di Bengkulu, aku masih biasa saja. Aku sering mendengar keluhan mama tentang papa. Aku sudah punya Alkitab waktu itu tetapi tersimpan rapi di lemari, hanya seminggu sekali saja jalan-jalan ke gereja. Semakin mendengar perihal tentang papa, aku makin benci papa. Aku benci sekali sampai aku menangis kesal kenapa aku harus lahir dari ayah seperti dia, walau aku senang punya ibu seperti mama.

Mujizat Terjadi
Dalam kebencianku kepada papa, dalam tangisku, aku mengeluh kepada Tuhan. Waktu itu aku memang belum 100% percaya tetapi aku sudah mulai ke gereja. Aku berdoa, “Tuhan, kalau Kau memang Tuhan yang hidup, jawablah aku! Mengapa Kau sembuhkan papa cuma 3 hari? Aku memang tidak pernah memegang firmanMu di dalam hidupku, tetapi kali ini aku akan membaca firmanMu.”. Kemudian aku berharap mendapat jawaban dari maksimal 3 ayat yang kubaca. Lalu aku membuka Alkitab. Tidak perlu aku membuka tiga ayat untuk menemukan jawabannya, tetapi hanya satu. Aku membaca judul perikopnya “Kembalinya Roh Jahat”. Judulnya membuatku ilfil, jadi aku mencoba mencari ayat lain, tetapi aku memberi tanda di bagian itu. Setelah aku membaca dua ayat lain, aku tidak mendapat jawaban yang kuharapkan, jadi aku kembali membaca ayat pertama yang kubuka. Itu adalah ayat pertama dari halaman pertama yang ku buka dan mata ku pertama kali tertuju ke situ.
KEMBALINYA ROH JAHAT
LUK 11 : 29~32
Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya.
Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur.
Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.

Jawaban yang kudapatkan itu membuatku menangis. Tuhan benar-benar hidup. Aku menangis sejadinya malam itu, tetapi aku menahan suaraku agar tidak membangunkan yang lain.

Aku Mendengar Suara Tuhan
Beberapa hari setelah aku mendapat jawaban dari Tuhan, aku ke gereja. Tuhan kembali memberiku mujizat. Seorang pendeta muda GBI Bengkulu waktu itu, kalau tidak salah namanya ko Heri, memimpin kotbah. Ia meminta jemaat membuka hati, berdoa dalam hati dengan menundukan kepala, dan melapor kepada Tuhan. Aku berdoa khusuk, dalam doaku aku berteriak “Tuhan, aku benci papaku! Aku tidak mau dia seperti ini, aku mau dia sembuh!”.  Seketika itu tubuhku seperti disentrum, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tuhan berkata padaku, “Jangan benci dia, cintailah dia.”.  Jelas amat sangat jelas di telingaku di antara lagu. Hal itu membuat hatiku meraung, bagaimana aku mau mencintainya dengan sikap dia yang seperti ini? Aku terus teriak tetapi hanya itu yang Tuhan katakan “Jangan benci dia, cintailah dia”.
Setelah itu ko Heri meminta maju ke depan bagi yang ingin didoakan. Saat itu pertama kali aku maju ke mimbar untuk meminta didoakan.

KKR di Curup
Beberapa waktu kemudian, GBI mengadakan acara KKR 3 hari di Curup. Aku disuruh ako untuk ikut. Jadi, kami berkumpul di Vila keluargaku,lalu ke curup untuk menghadiri KKR selama 3 hari. Tidak semuanya pergi karena ada yang harus menjaga anak kecil, papa tidak mau pergi, dan mama harus pulang untuk menjaga toko. Di KKR tersebut, aku terus dikuatkan. Walaupun aku sudah mendengar perintah Tuhan untuk tidak membenci papa, namun dengan perlakuan papa yang begitu membuatku sulit untuk tidak membencinya. Aku hanya terus mencoba dan mencoba.
Saat KKR, hal yang paling menyentuhku adalah hubungan kita dengan BAPA (BAPA DI SORGA). Disana dikatakan, hubungan yang buruk dengan bapa di bumi membuat kita sulit untuk mengucapkan kata Bapa. Pemimpin KKR saat itu meminta kami yang memiliki luka dengan orang tua untuk ke depan dan berdoa. Aku maju, lalu mereka bilang “Disini kami mewakili papa dan mama kalian meminta maaf karena telah melukai hati kalian, anak-anakku.”. Lalu mereka sujud di depan kami semua. Aku tidak tahan membayangkan papaku sujud di depanku. Aku pun ikut bersujud dan terus menangis. Di situ aku mendapatkan perintah Tuhan yang masuk ke dalam pikiranku untuk memeluk papa dan mengalah meminta maaf. Dan aku bertekat untuk mencobanya.
"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibr 4:7b)
Setelah hari ke 3 KKR aku memberanikan diri memberikan kesaksian di depan. Aku menceritakan semua kebaikan Tuhan menerima aku yang berdosa dan mengetuk hatiku. Itu pengalaman pertamaku memberi kesaksian walaupun sampai sekarang juga baru sekali itu ^^. Sekembalinya kami dari KKR, kami kembali berkumpul di vila. Awalnya aku sedikit ragu untuk memeluk dan meminta maaf. Tetapi aku kuatkan hatiku. Aku kumpulkan keberanianku. Setelah turun dari mobil, aku langsung memeluk papa meminta maaf atas semua kelakuanku dan kekurang-ajaranku. Seketika itu suasana jadi haru. Papa menangis, mama pun nangis. Saudara-saudara yang melihat tersenyum bahagia. Kami semua bahagia. Berangsur-angsur papa mulai sembuh. Dari situ aku mengambil keputusan untuk dibaptis. Aku dibaptis pada 1 Juli 2008. Papa sembuh cukup lama walau sekitar pertengahan tahun 2010 ini papa sedikit mengalami goncangan lagi. Aku percaya hal itu akan menjadi suatu yang berguna suatu hari nanti. Mohon dukungan doa untuk papaku agar dapat kembali sembuh dan tidak terganggu lagi.
Setelah aku menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, aku bercerita ke ako sewaktu kuliah aku pernah berkali-kali diinjili orang untuk ke pergi gereja, tetapi aku menolak. Di situ ako juga baru mengetahui kalau doa yang ia panjatkan untukku waktu itu di dengar Tuhan. Tuhan mengetuk hatiku karena doa-doa mereka yang waktu itu ku kunci rapat karena kekerasan hatiku ^^ Puji Tuhan, Dia sungguh baik dan terus mengetuk hatiku.

Adik Perempuanku Mau ke Gereja
Sewaktu aku masih bekerja di Bengkulu, kami pernah berkumpul keluarga di vila keluarga. Ako, mama, papa, adik-adikku, dan sepupu yang lain. Pernah sekali, waktu itu papa belum benar-benar sembuh, tapi sudah mulai ada kemajuan, aku mengumpulkan adik-adikku. Kami bertiga ke tempat sepi lalu berbicara. Di situ aku memberikan kesaksian kepada adik perempuanku yang belum menerima Tuhan Yesus. Waktu itu, ia hanya menangapinya dengan tertawa dan bertanya “Sudah selesai belum ceritanya?” Kemudian dia pergi. Jadi setelahnya aku hanya menasehati adik laki-lakiku (bungsu) untuk sabar menghadapi papa.
Adik perempuanku secara mengejutkan waktu ditelpon mama berkata “Udah yah ma, aku lagi nonton film kesaksian.”.  Hal itu membuat mamaku kaget. Lalu setelah cukup lama. Mama telpon lagi adikku mau ke gereja. Mama tanya kenapa bisa mau ke gereja? Adikku cerita, awalnya dia diajak temannya ke gereja,kata temannya pendetanya cakep, jadi dia penasaran dan pergi ke gereja. Setelah cukup lama pergi ke gereja dan mendengar khotbah dari pendeta dan yang lainya, hatinya tersentuh dan diapun bertobat. Ada-ada saja cara Tuhan mengetuk hati orang. Sungguh hal yang tak dapat di terka. Firman Tuhan telah digenapi di dalam keluargaku. Satu orang terselamatkan maka seisi rumah akan diselamatkan
Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu. (Kis 16:31)
 Dan puji Tuhan sekarang dia sudah menerima Tuhan. Sekarang seisi rumah kami sudah menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Haleluya..

2 comments:

Anonymous said...

Luar biasa, pekerjaan Tuhan sunggug-sungguh diluar akal. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus.

Hendri said...

Amin

Post a Comment